dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk... (Yakobus 3:10)
Bacaan: Amsal 18:20-21
Amsal mengatakan bahwa hidup dan mati dikuasai lidah. Lidah atau perkataan memiliki pengaruh yang begitu besar dalam kehidupan kita. Jika kita selalu mengeluarkan perkataan yang negatif dan mengucapkan kata-kata kutuk, maka seperti apa yang kita katakan, itu yang akan terjadi dalam kehidupan kita.
Jika kita selalu berkata negatif tentang diri kita sendiri, sebenarnya secara tidak langsung kita mengundang kutuk turun atas hidup kita. Kalau tidak percaya, cobalah setiap hari mengatakan, "aku bodoh..aku tidak mungkin bisa..aku tidak mungkin berhasil...aku akan selalu jadi orang miskin...aku akan selalu ditolak..." Lambat atau cepat, apa yang kita katakan itu akan terjadi dalam hidup kita. Ekstrimnya, perkataan adalah nubuatan bagi diri kita sendiri. Apa yang kita katakan pasti akan digenapi dalam hidup kita.
Seharusnya kita mulai munjaga perkataan kita untuk tidak mengucapkan hal-hal yang negatif, sebaliknya kita mulai memperkatakan perkataan-perkataan yang positif untuk bangsa kita. Ucapkanlah perkataan-perkataan yang positif untuk bangsa kita. Berkatilah setiap orang dengan perkataan-perkataan kita, maka berkat Tuhanpun akan turun sesuai perkataan kita.
Ada seorang Kristen yang hidupnya diberkati Tuhan luar biasa. Ketika ia ditanya apa kunci keberhasilannya, ia mengatakan, "Setiap saat aku selalu berkata-kata tentang hal positi yang akan terjadi pada hari ini. Setiap pagi, aku berdoa kepada Tuhan dan aku tak pernah lupa untuk berkata, "I'm a blessd people...(Aku orang yang diberkati...)!" Perkataan adalah nubuatan bagi diri kita sendiri.
Begitu bodohnya kita kalau kita memilih untuk "menubuatkan" hal-hal yang buruk dalam diri kita sendiri. Begitu bodohnya kita kalau kita memilih untuk mengutuki diri kita sendiri daripada memberkati diri kita sendiri. Sebuah pertanyaan yang perlu kita jawab, "Seperti apakah perkataan-perkataan yang keluar dari mulut kita?" Jika memang kita sudah begitu banyak mengeluarkan "nubuatan" yang negatif atas diri kita sendiri, baiklah kita mau tarik dan mau cabut perkataan itu di dalam nama Yesus!
--Perkataan adalah nubuatan bagi diri kita sendiri. Perkataan kitalah yang akan menentukan hidup kita.
(Renungan Harian Plus Cakrawala, Berkat & Kutuk, Ed.Januari 2004)
Kamis, Juni 05, 2008
Kuasa Perkataan
Diposting oleh Sunday Morning 0 komentar
Label: Saat Teduh
Mengerti Kehendak Allah

Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. (Matius 12:7)
Kita seringkali dibuat tidak mengerti oleh perbuatan beberapa anak Tuhan, bahkan juga beberapa hamba Tuhan, walaupun mereka mengerti akan firman Tuhan dan kebenarannya, tetap saja mereka berani melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang Tuhan. Yang lebih menyedihkan lagi, bahkan ada diantara mereka yang dengan bangga melayani pekerjaan Tuhan, mempersembahkan korban buat Tuhan.
Kita semua pasti mengerti bahwa setiap umat Tuhan wajib mempersembahkan korban buat Tuhan. Tetapi pertanyaannya ialah korban yang bagaimana? Rasul Paulus dengan tegas berkata:
"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1). Dengan ayat ini jelas sekali bahwa persembahan yang benar adalah penyerahan sepenuhnya hidup kita kepada Tuhan, persembahan yang kudus artinya tidak ada motivasi lain selain untuk menyenangkan Tuhan, serta persembahan yang berkenan kepada Tuhan artinya yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Maka sungguh benar firman Tuhan lewat nabi Hosea yang berkata:
"Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran." (Hosea 6:6). Sesungguhnya setiap firman TUhan mengenai persembahan dan korban, sudah dengan sangat jelas dinyatakan. Tetapi anehnya masih ada umat Tuhan yang berfikir, walaupun hidupnya tidak berkenan kepada Allah, asal mereka dapat mempersembahkan kekayaan dan uangnya, Tuhan pasti senang dan berkenan. Ingat! Tuhan bukanlah Allah yang dapat ditipu dan disuap. Tuhan tahu benar motivasi setiap umatNya yang mempersembahkan korban kepadaNya.
Kita memang hidup di jaman yang penuh dengan gemerlapnya dunia dan kemewahannya. Dan justru dijaman inilah kita harus serba waspada agar tidak terbuai dengan apa yang kita lihat. Perlu kita perhatikan nasihat firman Tuhan: "Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Allah." Efesus 5:17
"...kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan." Ibrani 12:14
(Air Hidup, Ed.Novemver 2001)
Diposting oleh Sunday Morning 0 komentar
Label: Saat Teduh
Bagaimana Jika...

Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai (Lukas 12:22)
Kita memang tidak ingin berdebat dengan Yesus, namun mungkin kadangkala kita bertanya-tanya dalam hati, apakah firmanNya tentang kekuatiran itu realistis? (Lukas 12:22). Tidak bolehkah kita kuatir jika tiba-tiba diberhentikan dari pekerjaan? Tidak bolehkah kita kuatir jika tiba-tiba kita sakit? Bukankah hal-hal seperti itu menakutkan, karena kita akan sulit memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan?
Tak ada kalimat lain dalam bahasa apapun didunia ini yang dapat menimbulkan kekuatiran seperti pertanyaan, "Bagaimanakah Jika ?" Bila kita terus menggumamkan kalimat itu, maka akan terbayang satu demi satu kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Kita tidak lagi ingat akan fakta bahwa kebutuhan kita selalu terpenuhi, baik di masa lalu maupun saat ini. Kita senantiasa dihantui perasaan takut kalau-kalau sumber penghasilan kita terhenti.
Memang bijak jika kita merencanakan masa depan, namun bayangan yang mencemaskan tentang kesulitan di hari esok (padahal sumber penghasilan kita baik-baik saja) sering kali tak mudah dihilangkan. Yesus mengajarkan bahwa kekuatiran akan hari esok adalah sia-sia belaka. Kita tidak perlu gentar dengan apa yang akan terjadi atau apa yang kita butuhkan. Satu-satunya kebutuhan yang tidak dapat Allah penuhi adalah kebutuhan "khayal" kita tentang hari esok.
Jika Allah telah memberikan kebutuhan pangan yang cukup bagi kita hari ini, mengapa kita tidak mengijinkan Dia memberikan perhatian yang sama untuk masa depan kita?
-- Kekuatiran menguras perhatian kita pada masalah-masalah yang belum tentu terjadi.
(Renungan Harian, Ed.Juni 2001)
Diposting oleh Sunday Morning 0 komentar
Label: Saat Teduh
Pengalaman Pribadi

Sebab Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, bahkan menjaga kakiku, sehingga tidak tersandung... (Mazmur 56:14)
Bacaan: Mazmur 56:1-14
Hidup penuh tantangan dan masalah atau hidup mapan tanpa masalah, mana yang kita pilih? Sebagai manusia, siapapun orangnya jika bisa memilih, pastilah ingin memilih hidup dalam kemapanan dan tanpa masalah. Tidak seorangpun ingin hidup dalam tantangan dan menderita. Kita pun selalu berdoa agar Tuhan menghindarkan kita dari persoalan dan tantangan hidup ini. Kenyataannya apakah kita bisa membuat pilihan-pilihan seperti ini?
Kita sebagai orang-orang percayapun justru sering mengalami tantangan yang besar dalam hidup ini. Pemazmur dalam Mazmur 73pun menyatakan bahwa seolah hidup orang benar ternyata justru banyak menghadapi kesulitan hidup sementara orang fasik justru seolah hidup tanpa menemui kesulitan apapun.
Ya!Kita tidak mampu untuk menghindar dari masalah. Namun ketika Allah mengijinkan hal-hal itu terjadi dalam hidup kita, sebenarnya kita sedang dibawa kepada sebuah pengalaman untuk kita mengenal kuasa dan pertolongan Allah. Sama seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego sekalipun ia bisa memilih masuk dan melewati api itu demi imannya kepada Allah! Dan untuk orang-orang seperti ini, ternyata Allah membuktikan kuasa dan pertolonganNya. Sekalipun mereka berjalan dalam ganasnya lautan api, namun tidak ada sedikit pun bagian tubuh mereka terbakar. Ini sebuah pengalaman yang besar! Seandainya mereka menghindari api, mereka tidak akan mendapat kesempatan mengenal Allahnya.
Bagaimanakah dengan hidup kita bersama Allah? Mungkin banyak kali kita berkata bahwa Allah itu baik, Dia penolong, DIa berkuasa, dsb, tetapi apakah hidup kita benar-benar mengalami tentang apa yang dibuatNya? Tantangan dan persoalan hidup adalah cara terbaik dari Allah untuk memperkenalkan diriNya. Kerinduan hati Allah adalah supaya setiap umatNya mengenalNya bukan dari perkataan orang lain atau sekedar pengertian tetapi dari pengalaman pribadi. Jika kita sedang menghadapi tantangan yang sangat berat untuk dilalui, Allah hanya menginginkan satu hal, jangan menghindar, lewati tantangan itu bersama Allah dan nikmatilah pengalaman baru bersama Dia.
-- Sebenarnya tantangan-tantangan hidup yang kita alami adalah cara Allah untuk memperkenalkan diriNya
(Renungan Harian Plus Cakrawala, Berkat & Kutuk, Ed.Januari 2004)
Diposting oleh Sunday Morning 0 komentar
Label: Saat Teduh
Rabu, Juni 04, 2008
Tindakan Kita Sebatas Kita Memandang Dunia

Bila anda memandang diri anda kecil, dunia akan tampak sempit, dan tindakan anda pun jadi kerdil.
Namun, bila anda memandang diri anda besar, dunia terlihat luas, anda pun melakukan hal-hal penting dan berharga.
Tindakan anda adalah cermin bagaimana anda melihat dunia. Sementara dunia anda tak lebih luas dari pikiran anda tentang diri anda sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita. Padahal dunia tak butuh penilaian apa-apa dari kita. Ia hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat. Ia menggemakan apa yang ingin kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri.
Maka, bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negatif terhadap diri sendiri. Melampaui diatas itu, kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya. Dan, dunia pun menampakkan realitanya yang selama ini tersembunyi di balik penilaian-penilaian kita.
(diambil dari: MOTIVASI NET, Ir.Andi Muzaki, SH, MT)
Diposting oleh Sunday Morning 0 komentar
Label: Spirit