Tampilkan postingan dengan label Saat Teduh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saat Teduh. Tampilkan semua postingan

Kamis, Juli 03, 2008

Tergantung Pikiran


Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia. (Amsal 23:7)
Bacaan: Amsal 23:1-35

Banyak hal membuktikan bahwa apa yang dipikirkan seseorang akan menghasilkan sesuatu tepat seperti yang dipikirkan. Ketika seseorang terus menerus memikir hal-hal yang positif dalam hidupnya, maka ia akan mengalami hal yang positif. Dan demikian juga sebaliknya, ketika seseorang terus menerus memikirkan tentang kekuatiran, hal-hal negatif, ketakutan, maka hal-hal seperti itulah yang akan terjadi.
Ada sebuah ilustrasi sederhana yang dapat menjelaskan hal ini:
Suatu hali ada seorang pedagang yang mengalami gangguan pendengaran dan penglihatan. Ia tidak mampu mendengar berita dari siaran radio ataupun dari surat kabar. Padahal waktu itu negara itu sedang menghadapi resesi ekonomi yang besar.


Sementara orang-orang lain merasa khawatir dan ketakutan akan usahanya, si pedagang itu tetap berpikir bagaimana usahanya maju. Dan benar, dalam waktu singkat penjualannya meningkat. Tetapi beberapa waktu kemudian, anaknya sepulang dari perguruan tinggi menceritakan kondisi dunia kepada ayahnya. "Ayah, tidakkah ayah mendengarkan radio? Resesi besar sedang terjadi! Banyak pedagang gulung tikar! Situasi dalam negeri lebih buruk lagi!" Yang trejadi kemudian, pedagang itu selalu kuatir dengan usahanya, takut jika bangkrut, dsb. Ia mulai mengurangi pesanannya dan takut dengan usahanya. Dalam waktu singkat, usahanya merosot dan ia berkata, "Kau benar nak, kita sedang berada ditengah-tengah resesi besar!"
Kehancuran dan kegagalan kita lebih sering disebabkan karena kita selalu berpikir tentang kegagalan. Bukankah kita juga demikian? Janji Tuhan adalah janji yang murni bagi setiap orang yang mempercayai firmanNya. Tuhan selalu menjanjikan hal-hal yang terbaik untuk diberikan kepada umatNya. Hanya yang menjadi penghalang mengapa seringkali kita tidak menikmati janjiNya karena kita selalu mengisi pikiran kita dengan perkara-perkara yang menakutkan, berpikir negatif, membayangkan kesukaran ketika hal-hal buruk itu terjadi.
Amsal 23:7 menulis, "Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia."
Kita akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan! Kita tidak akan menikmati janji-janji Tuhan saat kita meragukannya ditengah kesulitan yang kita alami. Tetapi ketika kita tetap punya keyakinan ditengah ketidakmungkinan, kita pasti menikmatinya.

(Renungan Harian Plus "Cakrawala, Berkat & Kutuk)


[+/-] Selengkapnya...

Rabu, Juli 02, 2008

Keluarga adalah Rencana Allah


Dari Kejadian sampai dengan Wahyu, jika anda menyimak setiap isi di dalam seluruh Firman Allah, anda akan menemukan bahwa Bapa ingin menciptakan suatu keluarga. Jadi konsep suatu keluarga timbul dari Allah Bapa sendiri.
Kalau Anda seorang perempuan atau pria lajang yang menentang pernikahan, berarti anda menentang rencana Allah dalam hidup anda. Kenapa demikian? Karena firman Tuhan menyatakan demikian. Tapi jika anda sudah menikah, lalu anda ingin mengakhiri pernikahan tersebut, itupun tidak sesuai dengan firman Tuhan.


Allah menginginkan pernikahan sekali seumur hidup, kecuali salah satu pasangan meninggal.
Didalam pernikahan sendiri ada suatu konsep perjanjian, yaitu adanya komitmen dan cinta. Tanpa cinta dan komitmen, pernikahan tidak mungkin terbentuk. Cinta saja atau komitmen saja tidak akan kuat dalam menjalani bahtera rumah tangga, karena cinta dan komitmen saling berkaitan, dan tidak dapat dipisahkan.
Rasa cinta sangat diperlukan didalam hubungan suami dan istri, karena tanpa cinta tidak akan pernah terbentuk hubungan yang harmonis. Cinta sendiri mencakup perhatian, pengertian, saling membantu satu dengan yang lainnya dan bertanggung jawab. Komunikasi yang baik dalam hubungan suami istri itu juga timbul dari ekspresi cinta. Jadi jelas bahwa cinta dalam tiap pasangan akan membentuk keluarga yang baik dan harmonis.
Demikian juga kita ini jangan pernah mengabaikan hubungan kita dengan Allah, supaya terbentuk hubungan yang harmonis. Doa adalah cara kita untuk dapat berhubungan dengan Allah. Tentu saja doa yang berkesinambungan menghasilkan suatu hubungan yang erat. Kalau sudah tidak kontinyu lagi, perbaiki hubungan itu. Percayalah anda akan dapat sesuatu cinta yang baru dihati anda.

(Renungan Harian "Perempuan", Perempuan, peran & pengaruhnya)


[+/-] Selengkapnya...

Selasa, Juli 01, 2008

Bukan Waktu Kita


Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Abraham: "Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua?"
(Kejadian 18:13)

Sering kita dikalahkan oleh waktu. Pikirkanlah berapa kali Anda menjadi tidak sabar dan ingin segera mendapatkan jawaban atas doa-doa Anda. Waktu Allah bukan waktu kita. Mungkin Allah tidak datang saat kita mengharapkannya, tetapi Ia selalu datang tepat pada waktunya.
Alkitab mengatakan bahwa Sara dua kali tertawa:
Pertama, Sara tertawa karena meragukan kemampuan Allah untuk membuat dia hamil pada masa tuanya dan saat secara medis tidak ada harapan lagi baginya untuk memiliki seorang anak.

Kedua, Sara tertawa bersama Allah, karena benar ia melahirkan seorang anak laki-laki. Sara belajar bahwa ternyata Allah itu setia dan menepati janjinya. Kali ini dia tertawa karena sukacita yang besar.
Seberapa sering kita berhenti mengharapkan mujizat dari Tuhan karena keterbatasan waktu? Menjadi putus asa, karena sekian lama tidak dijawab, lalu akhirnya kita menjadi benar-benar tidak percaya, adalah akibat yang ditimbulkan karena kita tidak mau mengerti soal waktu.
Percayalah bahwa Allah setia kepada janji-Nya. Ia rindu mewujudkan cita-cita Anda, namun waktu adalah milik Tuhan. Dia yang paling mengetahui kapan melepaskan mujizatNya. Bersabarlah dan nantikanlah sampai waktuNya dinyatakan!

(Renungan Harian "Perempuan". Perempuan, peran dan pengaruhnya)

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, Juni 27, 2008

Ketika Kita Kehilangan

"dan Tuhan memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu." (Ayub 42:10)
Bacaan: Ayub 1-2, 42:7-17

Sungguh sedih saat ngeliat banyak orang yang maunya cuman seneng-seneng aja. Pas semuanya hepi-hepi, mereka bisa deket ama Tuhan dan ngomong Tuhan itu baik banget. Tapi saat Tuhan ijinkan "chocolate" yang kita sukai mulai dipindahkan dan perubahan yang enggak mengenakan itu mulai terjadi, kitapun jadi stress dan sewot abis. Sukacita yang selama ini terpancar jadi ilang digantikan ama rupa yang ruwet banget. Dulunya setia ibadah sekarang jadi males.
Udah jatuh tertimpa tangga. Ini gambaran yang gampang tentang Ayub. Bayangin aja, kerajaan bisnis yang udah dibangun bertahun-tahun harus ludes dalam sekejap mata. Usaha eksport importnya macet total. Bisnis propertinya juga merugi. Udah gitu anak-anaknya meninggal ketika lagi asyik bersalsa ria di diskotek. Istrinya juga meninggalkan dia. Dia sendiri kena penyakit panu yang gatal banget.

Ayub kehilangan "chocolate" raksasanya, bahkan enggak disisakan sedikitpun juga. Ini perubahan yang berat banget bagi Ayub. Kalo kita yang jadi Ayub, bisa-bisa kita protes berat ama Tuhan. Bisa-bisa kita bilang "Tuhan tuh gak adil", "Tuhan itu jahat", "Tuhan itu cuman omong kosong dan isapan jempol aja". Ya, kita akan menyalahkan Tuhan karena Tuhan mengijinkan "chocolate" kita dipindahkan.
Kita akan salut banget saat ngeliat reaksi Ayub dalam menanggapi perubahan itu. Yang jelas Ayub enggak protes, enggak ngomong kotor, enggak ada sumpah serapah keluar dari mulutnya. Bahkan ia menanggapi perubahan itu dengan sikap positip banget. Ia tetap bersyukur ama Tuhan!
Apa sih reaksi kita waktu "chocolate" kita dipindahkan? Kalo kita ngeliat setiap perubahan dengan kacamata positip, berani jamin deh kalo kita enggak bakal mundur apalagi meninggalkan Tuhan. Kita percaya, bahwa dibalik setiap perubahan itu ada rencana Tuhan yang dahsyat banget. Perubahan yang buruk enggak selamanya terus buruk. Perubahan yang buruk itu kadangkala justru membawa kita ke tempat yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Hilangnya "chocolate" kita justru membuat kita berani menemukan "chocolate" kita yang lain, yang lebih baik tentunya. Kisah Ayub diakhiri dengan happy ending. Ia memang kehilangan "chocolate"nya, tapi akhirnya ia menemukan dan mendapatkan "chocolate" yang lebih baik dari sebelumnya.

(Funky 'n Gaul vol.27, "Who Moved My Chocolate?", dari judul "Apa reaksi kita?")

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, Juni 26, 2008

Underdog


"aku mendatangi engkau dalam nama Tuhan semesta alam..." 1 Samuel 17:45
Baca: 1 Samuel 17:40-54

Kalo kamu termasuk orang yang hoby ama olahraga tentu kamu enggak asing lagi ama istilah underdog. Apa sih underdog itu? Apa ini jenis anjing baru yang lagi ngetrend? Enggak, underdog berarti seseorang atau sebuah tim yang diperkirakan bakal kalah dalam sebuah pertandingan olahraga. Kemungkinannya untuk bisa mencapai kemenangan sangatlah tipis, atau bisa juga dikatakan mustahil bisa menang. Jadi kalo ada sebuah tim udah dikatakan underdog, wah itu jadi beban mental tersendiri bagi tim itu. Jika tim itu termakan ama istilah underdog itu maka dalam benak tim itu udah ada gambaran bahwa ia datang hanya untuk kalah dan pulang loyo karena enggak bisa meraih prestasi apa-apa.

Pertandingan yang satu ini memang enggak seimbang. Diliat dari segi manapun juga pertandingan ini enggak sebanding. Kalo dalam pertandingan tinju, sama aja ini kelas paling berat melawan kelas paling ringan. Udah gitu, panitia pertandingannya ngaco banget, tahu pertandingan ini bakal enggak seimbang dan enggak seru, eh tetep aja pertandingan ini dilakukan.
Inilah Daud melawan Goliat. Jelas-jelas Daudlah yang jadi underdognya. Enggak seimbang, enggak sebanding dan mustahil banget Daud bisa menang dalam perkelahian ini. Tapi perkelahian baru berjalan beberapa saat, mereka semua dikejutkan ama kenyataan yang enggak pernah disangka-sangka. Daud, si underdog itu, tiba-tiba menghempaskan dan memancung kepala Goliat, raksasa Filistin!
Daud udah buktikan ama kita, sekalipun ia dicap underdog ia bisa membalikkan fakta dan meraih kemenangan besar. Mungkin hal yang sama juga kita alami sekarang ini. Banyak orang meremehkan kita, enggak peduli itu guru, temen, sodara atau bahkan ortu kita sendiri. Ya, mereka menganggap kita ini underdog. Walhasil kita jadi jengkel banget, tambah keki atau bisa jadi justru tambah enggak pede dan minder abis. Sobat, kalo kebetulan kamu punya masalah yang seperti ini, coba deh inget Daud. Ia juga dianggap underdog, tapi toh ia bisa buktikan kalo ia mengalahkan Goliat.
Jangan pernah percaya kalo kamu underdog, sebab Allah enggak pernah sebut kita dengan istilah itu. Allah selalu berkata kalo kita ini pahlawan. Keren ya? Enggak peduli apapun juga keberadaan kita, Allah selalu menyebut kita pahlawan. Keren ya?! Enggak peduli apapun juga keberadaan kita, Allah selalu menyebut kita pahlawan sebab Ia memang menentukan kita untuk jadi pemenang dalam segala hal.

- Jangan percayai orang-orang yang berkata bahwa kita adalah underdog.
- Allah enggak pernah menyebut kita dengan istilah underdog, bahkan Ia menyebut kita pahlawan.

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, Juni 25, 2008

Jerat Iblis


"Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta." (Yohanes 8:44)
Baca: Yohanes 8:37-47

Seorang nenek sedang meramal seorang wanita. Sambil meraba-raba bola kristalnya, ia berkata, "Engkau akan bertemu dengan seorang laki-laki yang gagah dan tampan, memiliki beberapa perusahaan minyak, ratusan ribu hektar tanah dipinggir kota, dan sebuah kapal pesiar dengan 100 awak kapal. Ia akan mengawinimu dan kalian akan hidup berbahagia selamanya."
"Oh senangnya! Tapi, bagaimana dengan nasih suami dan anak-anakku yang sekarang?"
Di jaman yang serba modern ini orang mengalami kesulitan untuk mengikuti kemajuan teknologi yang sangat cepat. Paling tidak ada dua sikap seseorang dalam menghadapi situasi seperti ini, yaitu:

Pertama, ia berusaha untuk mengikuti perkembangan yang ada karena memang memiliki kemampuan untuk hal tersebut. Kedua, oleh karena ia tidak mempunyai kemampuan yang memadai, maka ia mengambil jalan pintas yaitu berhubungan dengan kuasa kegelapan agar mendapat kuasa atau kemampuan untuk bertahan dalam dunia yang modern. Itulah sebabnya, saat-saat ini hal-hal yang berhubungan dengan mistik atau supranatural bermunculan dimana-mana. Dan ini adalah tipu muslihat Iblis. Akan tetapi sebagai orang percaya, seharusnya kita tetap berharap hanya kepada Tuhan karena Ialah yang empunya segala sesuatu.
Dalam Efesus 6:11 Rasul Paulus mengatakan bahwa senjata utama dan satu-satunya iblis adalah tipu muslihat. Yesus menyebutnya sebagai bapa segala dusta, karena segala sesuatu yang dilakukan iblis adalah kebohongan dan dusta. Oleh karena itu, janganlah kita sekali-kali terlibat dalam dunia kegelapan seperti: ilmu putih, jima-jimat, pelarisan, horoskop dan lain-lain karena semuanya itu adalah kebohongan. Namun apabila kita sudah atau pernah terlibat, mintalah pada Tuhan dengan "niat" untuk melepaskannya.

(Renungan harian keluarga|pribadi|kelompok, Pelangi Kasih)

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, Juni 24, 2008

Allah Memberi Kita Kesempatan


"Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima". (2 Korintus 6:1)

Tuhan tentu punya maksud didalam menyelamatkan manusia. Kita tidak boleh berhenti hanya sampai keselamatan saja, tetapi kita harus berbuah. Untuk hal ini, Allah telah membuka pintu-pintu untuk pertumbuhan rohani dan memberi kita kesempatan untuk melayani pekerjaan Tuhan. Kita semua mengerti bahwa setiap pelayanan yang Yesus percayakan kepada kita, akan membuat kita bertumbuh menjadi kuat dan menjadi kemuliaan bagi Tuhan serta membawa berkat, baik bagi orang lain maupun bagi kita sendiri.
Sebab itu, rasul Paulus mengatakan: "Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima. Sebab Allah berfirman: "Pada waktu Aku berkenan, aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau. "Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu. Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami tidak dicela." (2 Korintus 6:1-3)

Ada banyak tugas yang Tuhan berikan kepada kita sesuai dengan talenta yang Tuhan beri. Ada bagian yang Allah kerjakan dan ada bagian yang kita kerjakan. Bila Allah sudah mengerjakan bagianNya, dan kita tidak melakukan apa-apa, tentu Allah akan memberi tugas kepada orang lain yang bersedia melakukan tugas Allah, kita pasti dihadapkan dengan banyak kesulitan dan tantangan. Tetapi bagi kita yang sudah bersedia melakukan tugas ini, Allah pasti menyertai kita. Rasul Paulus berkata: "Sebab disini banyak kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang." (1Korintus 16:9). Jadi seperti yang dikatakan Pulus: "Jangan membuat sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima." Apakah kita mau menggunakan kesempatan yang Tuhan beri, hal itu tergantung pada diri kita sendiri, Allah tidak pernah memaksa.
"Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati." 2 Korintus 4:1

(Renungan Harian "Air Hidup")

[+/-] Selengkapnya...

Senin, Juni 23, 2008

Ruarrrrr Biasa!!!!


"Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya Tuhan, Allahku, perbuatanMu yang ajaib..." (Mazmur 40:6)

Ruarrrr biasa!
Banyak dari kita berpikir kalo hal-hal yang luar biasa tuh selalu hal-hal yang gede dan spektakuler saja, sedangkan hal-hal kecil tuh biasa-biasa aja. Cara pandang yang seperti ini bisa membuat kita terjebak untuk hanya mensyukuri hal-hal yang dahsyat dan melupakan hal-hal yang biasa.
Ruarrrr biasa!
Tanpa kita komandopun darah yang ada dalam tubuh kita ini terus ngalami sirkulasi. Enggak usah diperintah pake acara teriak-teriak segala, paru-paru kita hanya mau mengambil nafas jika diperintah aja, bisa-bisa kita enggak bisa ngerjain apa-apa karena waktu kita habiskan hanya untuk memerintah paru-paru kita agar bernafas. Jadi untuk berkata ruar biasa, kita enggak perlu nunggu sakit kronis dulu baru Tuhan sembuhkan. Sekarangpun kita bisa berkata, "Luarrr biasa!"

Ruarrrr biasa!
Kita termasuk makhluk yang sering banget bikin jengkel hati Tuhan. Enggak jarang kita nglakuin sesuatu yang sangat menyakitkan hati Tuhan, bahkan membuatnya terluka. Eh uda gitu, kok ya Tuhan tuh mau-maunya sabar ama kita. Sampai hari ini kita masih diakui sebagai anakNya, bahkan nama kita masih tercatat di Sorga. Bukankah ini luar biasa? Karena nurut ukuran manusia, mestinya kita udah dibuang jauh-jauh.
Ruarrr biasa!
Pelayanan yang Tuhan percayakan ama kita enggak selalu beres. Hasilnya juga enggak baik-baik amat. Nglakuin kesalahan dalam pelayanan? Uhhh...udah enggak keitung lagi, tapi herannya Tuhan masih aja percayakan pelayanan ini kepada kita. Bukankah ini hal yang luar biasa? Apa kita harus nunggu Tuhan ngadain mujizat spektakuler dulu baru kita bisa berkata luar biasa? Enggah, yang seperti inipun sudah luar biasa!
Ruarrr biasa!
Kita punya ortu yang baik dan sayang ama kita, sekalipun kadang kita sebel ama mereka. Kita punya temen yang setia. Sodara-sodara kita yang sekalipun bikin kita sering berantem tapi kita selalu kangen ama mereka. Ini bener-bener ruarrrrr biasa!

- Belajarlah mensyukuri dan mengagumi hal-hal yang kecil yang Tuhan berikan ama kita.
- Jika kita mo renungkan setiap sisi dalam hidup kita, pasti di kedalaman hati kita yang paling dalam akanterdengar sebuah teriakan.... Ruarrrrr biasa!!!

(Funky 'n Gaul vol.23, Get Radical!)

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, Juni 20, 2008

Burung


"Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu di Sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu" (Matius 6:26)

Bila kita sedang mngalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan materi, marilah kita ingat pada burung. Burung tiap pagi keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan. Jadi kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan buat keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup buat keluarganya, sementara ia harus "puasa". Bahkan seringkali ia pulang tanpa membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus "berpuasa". Meskipun burung lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak punya "kantor" yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia, namun yang jelas kita tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk bunuh diri.

Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu cadas. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menenggelamkan diri ke sungai. Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya. Burung tetap optimis mencari makanan. Meskipun kadang kelaparan, namun setiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya.
Bukankah kita lebih dari seekor burung? Yesus sendiri dalam ayat diatas telah menilai kita lebih tinggi dari burung. Kalau burung saja bisa bersukacita dan tidak pernah putus asa dalam hidup ini, maka kita juga harus melebihi burung tersebut.

(Renungan Harian: PEREMPUAN (Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya), "Perempuan, Peran & Pengaruhnya")

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, Juni 19, 2008

Fokus ama Solusi


"Tetapi aku justru berusaha sekuat tenaga" (Nehemia 6:9)
Baca: Nehemia 4:1-23

Kita udah terbiasa fokus ama masalah bukannya fokus ama solusi. Kita sibuk menganalisa mengapa masalah itu terjadi. Dengan analisa itu kita mulai salahkan sana sini. Kita mulai tuding ini itu sebagai penyebab masalah kita ini. Cari kambing hitam untuk menutup kesalahan diri dan bukannya mikir solusi sebagai pemecahan masalah itu. Ini hal yang tanpa sadar sebenarnya sering banget kita lakukan.
Semisal nilai raportmu ternyata jeblok banget. Hampir-hampir enggak naik, kalopun bisa naik, itu hanya karena kasih karunia dan mujizat aja. Dapet nilai seperti ini biasanya kita enggak cepet-cepet nyari solusi atau cara untuk ngatasi masalah ini.

Sebaliknya, kita mulai tuding guru kita yang enggak fair, yang sengaja pengin jatuhkan nilai kita, yang enggak bisa ngajar dengan jelas dan seribu alasan lainnya. Guru udah kita tuding, selanjutnya kita mulai nuding temen-temen yang nyontek. Enggak puas ama fasilitas gedung yang enggak memadai, misalnya ruangan enggak ber-AC, kursi enggak pake sofa, kantin juga enggak komplit (apa hubungannya kantin ama nilai jeblok???). Yang terakhir, kita mulai salahkan ortu. Yang mereka enggak perhatianlah, yang minim fasilitaslah, yang uang jajannya sedikitlah. Alasan-alasan enggak bermutu ini kita pikir terus menerus dan kita lupa nyari solusi yang terbaik.
Kalo kita orang mau dewasa, harusnya enggak perlu berlama-lama mikir tentang masalah kita, apalagi sampe menyalahkan orang lain segala. Harusnya kita segera nyari solusi terbaik, entahkah kita mulai mengatur waktu dan belajar disiplin, entahkah kita nyari guru les, entahkah kita bikin kelompok belajar. Minim fasilitas sampe-sampe kita enggak bisa beli buku? Cari solusi dong, dan jangan cuman bengong meratapi nasib aja. Kamu bisa pinjam di perpust, bisa juga pinjam dari kakak kelas, atau harus bela-belain foto copy, asal jangan ngembat loo...
Jadi, jangan mulai membahas bagaimana masalah itu terjadi, tetapi mulailah membahas jalan keluarnya. Hal yang seperti ini bisa juga kamu terapkan disemua lingkungan atau dalam komunitasmu bergaul ketika diri kamu mengalami masalah.

- Jangan fokus ama masalah, tapi fokuslah ama solusinya.
- Menyalahkan keadaan, orang lain atau bahkan diri sendir bukanlah solusi
- Semakin cepat kamu fokus pada solusi, semakin cepat juga masalahmu akan selesai.

(Funky 'n Gaul, Vol.27, Who Moved My Chocolate?)

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, Juni 18, 2008

Radikal dalam Berdoa


"dan Kaudatangi setiap pagi dan Kauuji setiap saat?" Ayub 7:18
Baca: Ayub 7:17-18

Berapa banyak kita ambil waktu untuk berdoa setiap hari? Dua jam? Satu jam? Setengah jam? Kurang dari 5 menit? Atau bahkan enggak pernah berdoa sama sekali?
Kebanyakan kita doa tuh hanya pada waktu-waktu tertentu aja. Misal waktu mo makan, waktu mo tidur, waktu mo pacaran (hi..hi..hi.. biar aman), udah gitu doa kita pun pake sistem SKS (Sistem Kebut Sekaleee). Ini namanya enggak punya kehidupan doa yang sehat. Jika doa kita seperti ini, jangan harap deh kita bisa bertemu ama Tuhan apalagi ngobrol denganNya. Gimana bisa ngobrol kalo Tuhan baru aja angkat bicara eh... kitanya udah "Amin". Ini menunjukkan kalo kita enggak punya kerinduan yang dalam akan Tuhan. Tul??

Padahal kalo kita mo baca dalam Ayub 7:18 harusnya kita malu banget. Firman Tuhan berkata bahwa setiap pagi Tuhan mendatangi kita untuk bertemu dengan kita. Eh...enggak salah liat tuh, masa sih Tuhan yang mendatangi kita, bukannya kita yang mendatangi Tuhan? Coba deh cek lagi, kalo perlu pake kaca pembesar juga. Seribu kalipun kita baca, ayatnya tetap berbunyi sama! (ya...iyalaaaaah)
Bayangkan aja, Tuhan mendatangi kita sementara kita masih ngorok. Apa yang dilakukan Tuhan selanjutnya? Bisa jadi Tuhan bangunkan kita (coba deh renungkan...Raja diatas segala raja sampe repot-repot membangunkan kita), tapi kebanyakan kita lebih suka tidur daripada bangun untuk berdoa. Walhasil, Tuhanpun kecewa berat karena enggak bisa bertemu dengan kita.
Sobat, di akhir jaman ini Tuhan mo bangkitkan sebuah generasi yang benar-benar nyari Tuhan. Sebuah generasi yang bener-bener radikal untuk berdoa. Udah saatnya kita enggak milih untuk bernyaman-nyamanan dengan tempat tidur kita. Udah saatnya kita punya sikap untuk mendisiplinkan diri. Kita mo janji untuk enggak bikin kecewa hati Tuhan lagi. Kalo kamu ingin dipake Tuhan dengan dahsyat, mulailah dengan membangun sebuah hubungan yang "amat sangat" dekat sekali dengan Tuhan. Ini syarat mutlak yang enggak bisa ditawar-tawar lagi! Dengan punya hubungan yang intim dengan Tuhan, rasakan sendiri gimana Allah akan memberkati dan memakai kamu dengan dahsyat sekaliiii!

(disadur dan diedit dari Funky 'n Gaul, Vol. 23 Get Radical, "Haknya Tuhan")

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, Juni 17, 2008

Jangan Balas!!!


Pada hari ini menahan aku...daripada bertindak sendiri dalam mencari keadilan. (1 Samuel 25:31)

Bacaan: 1 Samuel 25:2-39

Balaaasss! Ini udah keterlaluan! Ini udah enggak bisa ditolerir lagi! Kalo kita diamin aja dia bakal tambah kurang ajar lagi, makanya dia tuh harus dikasih sedikit pelajaran biar kapok! Kalo perlu kita ngebalas dua kali lipat dari apa yang pernah ia lakukan ama kita. Bank aja ada bunganya, maka dalam hal pembalasanpun kita juga pake sistem ini.
Walhasil kita mulai putar otak untuk merancangkan hal-hal yang jahat untuk membalas perbuatan temen kita selama ini.

Sobat, kamu disakiti, kamu diperlakukan dengan semena-mena, bahkan kamu difitnah dan digosipin yang enggak-enggak. Jujur aja, biasanya kita akan ngelabrak tuh orang, trus kita umpat habis-habisan, lalu kita mulai merencanakan sesuatu untuk membalas perbuatannya. Bagi orang-orang dunia, hal yang beginian mungkin enggak apa-apa (biasa), tapi kalo kita liat dari sudut pandang ajaran agama, hal seperti ini enggak bisa dibenarkan, dengan alasan apapun juga!
Memang benar temen kita yang mulai duluan. Memang bener temen kita sangat keterlaluan. Memang bener kita sangat dirugikan dan mungkin masih ada 1001 macam alasan untuk kita melakukan pembalasan. Tapi bagaimanapun juga, Firman Allah selalu katakan bahwa kita sebenarnya enggak punya hak untuk melakukan pembalasan. Pembalasan itu di tangan Tuhan.
Kalo kita cuman nuruti emosi dan melakukan pembalasan, sama aja kita memandang diri kita lebih hebat dari Tuhan. Kita meremehkan keadilan Tuhan. Sobat, jangan deh mikir untuk melakukan pembalasan. Tuhan tuh adil kok, jadi biar Tuhan sendiri yang memberi keadilan pada kita.
Inget aja kisah Daud ama Nabal. Nabal tuh orang yang nyebelin banget, Daud sampe dibuat jengkel karenanya. Dengan kemarahan yang udah ampe keubun-ubun Daud udah punya niat untuk membalas Nabal. Uuuh...untung aja datang Miss Israel waktu itu, Abigail. Daud jadi urung dan enggak jadi bales. Lalu apa yang terjadi pada Nabal? Tuhan sendiri yang membalas. Tuhan sendiri yang memukul Nabal sampe ia KO dan enggak bangun-bangun lagi.
Sobat, enggak perlulah kita pusing-pusing mikirin gimana caranya ngebales orang yang udah merugikan kita. Serahkan aja semuanya kepada Tuhan. Dan yang paling penting, kita mo ngampuni orang itu! Beres kan? Lagian jika kita 'membalas'nya, bisa saja urusan itu tambah panjang, gak selesai-selesai, dan tambah nyakitin kita. Right?!

- Pembalasan itu hak Tuhan
- Kita berdosa kalo melakukan pembalasan, itu sama saja kita enggak yakin apakah Tuhan bisa mengadakan pembalasan dengan adil. Ngeremehin Tuhan kan?

(Funky 'n Gaul, Vol. 23 Get Radical, "Haknya Tuhan")

[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, Juni 14, 2008

Jangan Catat!


Kasih tidak memegahkan diri dan tidak sombong... (1 Korintus 13:4)
Bacaan: 1 Konrintus 13:1-13

Salah satu cara yang efektif untuk membuat hubungan anda dengan pasangan anda menjadi renggang dan menimbulkan frustasi berkepanjangan adalah dengan mencatat apa saja yang sudah anda lakukan dan apa saja yang tidak dia lakukan. Bila ingin benar-benar menambah masalah dan memperuncingnya,anda cukup memberitahu dia secara teratur bahwa dia tidak bisa memenuhi harapan anda dan bahwa yang anda kerjakan jauh lebih banyak dari yang ia kerjakan.
Ini ide yang benar-benar aneh dan konyol, tapi secara tak sadar kita sering melakukannya, bahkan sudah menjadi kebiasaan bagi kita. Sudah menjadi kecenderungan manusia untuk menunjukkan apa yang sudah kita lakukan bagi pasangan kita, bahkan tidak hanya menunjukkan, tapi kita memberitahu dia bahwa kita telah melakukan ini dan itu untuk dia. Anda mencatat dan mengumumkan bahwa anda telah membersihkan rumah, mengepel, membayar ini dan itu, mencuci pakaian, mengantarnya pergi, memandikan anak-anak atau melakukan apa saja.

Mencatat apa saja yang anda sudah kerjakan dan mencatat kelemahan-kelemahannya, hanya akan membuat anda merasa lebih baik dari pada pasangan anda. Anda merasa dirugikan dalam hubungan ini dan anda frustasi dengan semuanya ini. Tak hanya itu, hubungan anda dengan pasangan bisa dipastikan menjadi renggang, timbul ketidakpuasan, frustasi terus menerus, bahkan perasaan keliru memilih pasangan hidup! Semuanya bermula dari kebiasaan kita mencatat apa yang sudah kita kerjakan dan merasa kita lebih banyak mengerjakan dari apa yang sudah dikerjakan pasangan kita.
Dasari keluarga kita dengan kasih agape. Ini kasih yang tidak menuntut dan tidak bersyarat. Ini kasih yang hanya memberi, memberi dan memberi... Ini kasih yang didasarkan akan rasa cinta yang tulus dan saling menghormati. Lupakan sederet kebaikan-kebaikan dan prestasi baik kita dalam keluarga. Jangan pernah menghitungnya lagi. Ini membuat kita tidak mudah terjebak dengan rasa frustasi ketika pasangan kita tidak bisa memberikan seperti yang kita sudah berikan atau sangat kurang dari hal itu.

"Jangan pernah mencatat kebaikan-kebaikan anda, dan merasa mengerjakan jauh lebih banyak dari pasangan anda."

(Renungan Harian plus Cakrawala, Berkat dan Kutuk, Ed. Januari 2004)

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, Juni 12, 2008

Ayah Yang Berbahagia


Ayah seorang yang benar akan bersorak-sorak; yang memperanakkan orang-orang yang bijak akan bersukacita karena dia (Amsal 23:24)

Banyak orang mungkin mengetahui ucapan Mark Twain yang terkenal berikut ini,"Ketika saya masih berusia 14 tahun, Ayah mengabaikan saya, sampai-sampai saya tidak tahan berdekatan dengannya. Namun saat berusia 21 tahun, saya takjub melihat begitu banyak perubahan yang dilakukan Ayah dalam kurun waktu 7 tahun."
Sikap anak-anak terhadap orangtua sering kali berubah seiring dengan bertambahnya usia mereka. Sebagian remaja cenderung bersikap kurang hormat terhadap ayah dan ibu mereka. Tentu saja ini sangat memprihatinkan. Namun setelah beranjak dewasa, banyak dari mereka yang menyadari bahwa ayah dan ibu mereka memang tahu lebih banyak dari yang mereka duga.

Selain itu, sebagian anak muda juga mulai menyesal dan berpikir bahwa seandainya dulu mereka mau mengikuti nasihat orangtua, maka pasti tak akan pernah timbul sakit hati bagi kedua pihak. Firman Allah mengatakan, "Hai anak-anak, taatilah orangtuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu-ini adalah perintah yang penting-seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi" (Efesus 6:1-3). Kitab Amsal juga mengajarkan hal yang sama, "Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau...Ayah seorang yang benar akan bersorak-sorak; yang memperanakkan orang-orang yang bijak akan bersukacita karena dia" (Amsal 23:22, 24).
Ingatlah, anak-anak yang bijak akan membuat ayah mereka bersukacita.

(Renungan Harian, Ed Juni 2001)

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, Juni 10, 2008

Kehilangan Kasih ?


Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihMu yang semula (Wahyu 2:4)
Bacaan: Wahyu 2:1-7

Apakah hari ini anda mengalami bahwa Tuhan terasa amat jauh? Mungkin kita tetap berada pada semua kesibukan kita baik itu ibadah, pelayanan bahkan doa-doa kita tetapi tanpa merasakan apapun seperti yang kita alami sejak mula kasih kita dengan Tuhan. Semangat kita mulai kendor, dan kasih kita kepada Tuhan memudar. Beberapa orang mungkin menyimpulkan, "Saya kurang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, maka saya kehilangan kasih Tuhan." Mungkin persoalan seperti inilah yang sering kita alami dan mungkin hari inipun kita sedang mengalaminya. Yang perlu kita sadari adalah bahwa kasih Tuhan adalah kasih yang kekal bahkan ketika kasih kita kepadaNya mulai pudarpun Dia tetap setia.

Jemaat di Efesus mengalami persoalan yang sama, itu sebabnya Tuhan menegur dengan keras dengan maksud agar mereka kembali mengalami kasih Tuhan. Yang sebenarnya terjadi adalah kita telah meninggalkan kasih dan bukan kehilangan kasih. Ada perbedaan antara meninggalkan dan kehilangan. Jika kita meninggalkan sebuah barang maka kita tahu dimana barang itu diletakkan, tetapi jika kita telah kehilangan maka kita tidak tahu lagi kemana harus mencari. Dan jemaat Efesus telah meninggalkan kasih yang semula, Tuhan sangan mengasihi mereka dan menginginkan agar mereka kembali kepada kasihNya dan bukan kepada yang lain.
Jawaban yang sama untuk menjawab masalah kita adalah kembalilah kepada kasih Tuhan. Periksa kembali hidup kita, mungkin ada bagian-bagian kasih kita yang tidak lagi kita berikan kepada Tuhan tetapi kepada hal-hal lain. Mungkin kasih kita seudah kita arahkan dengan kebanggaan akan karunia yang kita miliki, dengan talenta, atau dengan kesibukan pelayanan kita, atau motif yang sudah kita arahkan kepada diri sendiri. Yang berarti kita sudah meninggalkan kasih kita kepada Tuhan! Inisiatif kasih selalu dimulai dari Tuhan! Ia demikian mengasihi kita hanya terkadang kita mulai meninggalkannya sehingga kita tidak lagi merasakan kasih Tuhan. Peganglah janji Tuhan ini: Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepadaNya, pada setiap orang yang berseru kepadaNya dalam kesetiaan (Mazmur 145:18). Mari nikmati kembali hubungan yang dekat dengan Tuhan dan nikmati kasihNya.

(Renungan Harian Plus Cakrawala, Berkat & Kutuk, Ed.Januari 2004)

[+/-] Selengkapnya...

Senin, Juni 09, 2008

Memberi Pengampunan


Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang. (Yohanes 8:11)
Bacaan: Yohanes 8:2-11

Salah satu bukti seorang yang hidup dalam kasih adalah hati tidak melihat kesalahan orang lain dan hati yang mengampuni. Sifat dasar manusia yang paling menonjol adalah suka melihat bentuk kesalahan sekecil apapun itu dan suka mengkritik.
Ada sebuah ilustrasi yang mudah untuk menggambarkan hal ini. Seorang pendeta dalam ilustrasinya menunjukkan selembar kain putih bersih yang sebelumnya ia telah membuat sebuah titik kecil didalamnya. Kemudian pendeta itu bertanya, "Amatilah kain putih ini, coba periksa apa yang anda lihat?" Seluruh jemaat mencoba mencari hal-hal apa yang ada di kain putih itu. Kemudian hampir bersamaan mereka menjawab. "Kami melihat ada sebuah titik hitam kecil di dalamnya!"
Ini menunjukkan betapa manusia selalu dapat melihat titik sekecil apapun disebuah lembaran kain yang besar. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa orang tidak melihat yang bagian putihnya? Saya ingin mengajak anda untuk mengaplikasikan kondisi ini dalam kehidupan kita. Mengapa kita susah sekali memiliki hati untuk mengampuni seseorang lebih dikarenakan kita selalu melihat titik kesalahan tanpa benar-benar menghapus titik itu dari kehidupannya.

Coba perhatikan bagaimana cara Yesus melihat pribadi seorang yang berdosa. Yesus sedang memberikan kepada kita sebuah teladan bagaimana menerapkan kasih yang mengampuni seseorang. Yesus ingin menunjukkan bahwa kasihNya dinyatakan dengan menutupi kesalahan, tidak mencari kesalahan, menghibur dan memulihkan kehidupannya. Sama seperti melihat warna putihnya. Itu sebabnya Ia benar-benar mampu mengasihi seburuk apapun dosa yang telah dilakukannya. Karya terbesar Yesus adalah kematianNya dikayu salib membuktikan bahwa kasihNya kepada kita orang berdosa sehingga kita menerima pemulihan.
Allah kita adalah kasih. Jika Dia berdiam dalam hidup kita seharusnya kita hidup sama seperti Dia. Ketika mendapati seorang berdosa, kita tetap menunjukkan pribadi yang tidak menghakimi, tetapi memberikan pengampunan.

"Pengampunan itu akan benar-benar terjadi ketika kita tidak melihat kesalahannya tetapi pribadi yang dapat dipulihkan"

(Renungan Harian Plus Cakrawala, Berkat & Kutuk, Ed.Januari 2004)

[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, Juni 07, 2008

Dapat Dipercaya


Tuhan memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf... (Kejadian 39:5)
Bacaan: 39:1-6

Ketika saya merenungkan kisah Yusuf yang tertulis dalam Kejadian 39, saya dapat menyimpulkan bahwa ketika Yusuf hidup dalam penyertaan Tuhan, maka apapun yang dikerjakannya menjadi berhasil, sekalipun ia berada di tengah-tengah orang kafir. Dan lebih luar biasa lagi adalah kehidupan. Yusuf mampu menarik berkat Allah turun atas tempat dimana ia bekerja. Saya menemukan ada beberapa hal yang menjadikan mengapa Yusuf disertai oleh Tuhan sehingga ia menjadi seorang yang berhasil.

Pertama, Yusuf mengerti panggilan Allah atas hidupnya.Yusuf menyadari benar bahwa tidak mudah hidup dan bekerja di tengah lingkungan kafir. Mungkin jika ia bisa memilih, ia lebih suka pergi jauh-jauh dari tempat itu. Tetapi yang menjadikan Yusuf bertahan karena ia tahu bahwa ini adalah rencana dan panggilah ALlah bagi hidupnya. Ia percaya jika ALlah yang panggil maka Dia juga yang bertanggung jawab.
Kedua, Yusuf seorang yang setia dalam perkara kecil sekalipun itu adalah pekerjaan yang sulit. Yusuf diuji dalam pekerjaannya dan sikap tunduknya kepada tuannya. Yusuf tidak pernah mengeluh dengan pekerjaan yang dibebankan kepadanya, ia tetap setia untuk mengerjakannya.
Ketiga, Yusuf seorang yang dapat dipercaya. Kesetiaan dan tanggung jawabnya dalam bekerja menjadikan tuannya menaruh kasih kepadanya sehingga ia dipercaya hal yang lebih besar. Dapat ditarik kesimpulan bahwa ketika seseorang punya keputusan untuk taat dengan panggilan Allah, setia dalam perkara kecil, dan dapat dipercaya maka hidupnya diberkati Allah luar biasa.
Bagaimana dengan hidup kita? Apakah kita mengerti dengan panggilan Allah atas hidup kita? Sudahkah kita setia dengan pekerjaan kita? Apakah hidup kita dapat dipercaya?
Mungkin hari ini kita sudah terlalu bosan dan tertekan karena berada disebuah lingkungan kerja yang tidak nyaman, atasan yang tidak menyenangkan, pekerjaan yang berat, dsb. Tetapi apakah hal-hal itu menghalangi berkat Allah? Ya! Jika kita kompromi dengan "kedagingan" kita dan menghancurkan rencana Allah. Tetapi tidak! Ketika kita percaya bahwa Allah tetap menyertai kita, tahu bahwa panggilan Allah ada maksud mulia, tetap setia dengan pekerjaan yang diberikan kepada kita dan menjadi seorang yang mampu dipercaya oleh orang lain. Kehendak Allah adalah supaya kita menjadi berkat bagi tempat dimana kita berada.

(Renungan Harian Plus Cakrawala, Berkat & Kutuk, Ed.Januari 2004)

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, Juni 05, 2008

Bolehkah Kita Marah ?


Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. (Yakobus 1:20)

Dapat kita katakan bahwa semua orang pernah marah. Sering dalam hati kita timbul pertanyaan: Bolehkah kita marah? Untuk memperoleh jawaban, marilah kita memperhatikan apa yang dikatakan firman Tuhan. Yakobus dalam suratnya kepada keduabelas suku di perantauan mengatakan: "Hai, saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (Yakobus 1:19, 20). Demikian juga apa yang Paulus katakan: "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu, dan janganlah beri kesempatan kepada iblis." (Efesus 4:26, 27)

Dengan beberapa ayat diatas, kita mengerti bahwa ada hal-hal yang harus kita perhatikan:
1) Kemarahan tidak mengerjakan kebenaran dihadapan Allah
2) Boleh marah, tetapi jangan beri kesempatan kepada iblis.
Jika demikian, pertanyaannya ialah: perlukah kita marah?
Dari pengalaman semua orang yang pernah marah, semua mengakui sudah merasakan betapa tidak enaknya perasaan orang marah itu. Pada orang marah, orang tidak lagi dapat menguasai dirinya, sehingga akal sehatnya tidak bekerja, tetapi yang bekerja emosinya. Hal ini selalu membuat banyak kesulitan. Dan bila kita menuruti emosi kita saja, bukan hanya dapat menyakiti diri kita sendiri saja, bahkan selalu ada kemungkinan kita bisa menyakiti orang lain.
Sudah banyak penyelidikan yang dilakukan oleh para ahli kesehatan yang membuktikan, bahwa ada hubungan yang erat antara kemarahan yang terus menerus dengan segala macam penyakit yang diderita manusia. Misalnya saja penyakit jantung, kanker, reumatik, dan banyak penyakit yang lain selalu terjadi karena adanya dengki, marah, sakit hati, dendam, yang semuanya itu merupakan racun yang tersimpan dalam hati manusia.

"Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam hati orang bodoh" (Pengkhotbah 7:9)

(Air Hidup, Ed.Novemver 2001)

[+/-] Selengkapnya...

Kuasa Perkataan


dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk... (Yakobus 3:10)
Bacaan: Amsal 18:20-21

Amsal mengatakan bahwa hidup dan mati dikuasai lidah. Lidah atau perkataan memiliki pengaruh yang begitu besar dalam kehidupan kita. Jika kita selalu mengeluarkan perkataan yang negatif dan mengucapkan kata-kata kutuk, maka seperti apa yang kita katakan, itu yang akan terjadi dalam kehidupan kita.

Jika kita selalu berkata negatif tentang diri kita sendiri, sebenarnya secara tidak langsung kita mengundang kutuk turun atas hidup kita. Kalau tidak percaya, cobalah setiap hari mengatakan, "aku bodoh..aku tidak mungkin bisa..aku tidak mungkin berhasil...aku akan selalu jadi orang miskin...aku akan selalu ditolak..." Lambat atau cepat, apa yang kita katakan itu akan terjadi dalam hidup kita. Ekstrimnya, perkataan adalah nubuatan bagi diri kita sendiri. Apa yang kita katakan pasti akan digenapi dalam hidup kita.

Seharusnya kita mulai munjaga perkataan kita untuk tidak mengucapkan hal-hal yang negatif, sebaliknya kita mulai memperkatakan perkataan-perkataan yang positif untuk bangsa kita. Ucapkanlah perkataan-perkataan yang positif untuk bangsa kita. Berkatilah setiap orang dengan perkataan-perkataan kita, maka berkat Tuhanpun akan turun sesuai perkataan kita.

Ada seorang Kristen yang hidupnya diberkati Tuhan luar biasa. Ketika ia ditanya apa kunci keberhasilannya, ia mengatakan, "Setiap saat aku selalu berkata-kata tentang hal positi yang akan terjadi pada hari ini. Setiap pagi, aku berdoa kepada Tuhan dan aku tak pernah lupa untuk berkata, "I'm a blessd people...(Aku orang yang diberkati...)!" Perkataan adalah nubuatan bagi diri kita sendiri.

Begitu bodohnya kita kalau kita memilih untuk "menubuatkan" hal-hal yang buruk dalam diri kita sendiri. Begitu bodohnya kita kalau kita memilih untuk mengutuki diri kita sendiri daripada memberkati diri kita sendiri. Sebuah pertanyaan yang perlu kita jawab, "Seperti apakah perkataan-perkataan yang keluar dari mulut kita?" Jika memang kita sudah begitu banyak mengeluarkan "nubuatan" yang negatif atas diri kita sendiri, baiklah kita mau tarik dan mau cabut perkataan itu di dalam nama Yesus!

--Perkataan adalah nubuatan bagi diri kita sendiri. Perkataan kitalah yang akan menentukan hidup kita.

(Renungan Harian Plus Cakrawala, Berkat & Kutuk, Ed.Januari 2004)

[+/-] Selengkapnya...

Mengerti Kehendak Allah


Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. (Matius 12:7)

Kita seringkali dibuat tidak mengerti oleh perbuatan beberapa anak Tuhan, bahkan juga beberapa hamba Tuhan, walaupun mereka mengerti akan firman Tuhan dan kebenarannya, tetap saja mereka berani melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang Tuhan. Yang lebih menyedihkan lagi, bahkan ada diantara mereka yang dengan bangga melayani pekerjaan Tuhan, mempersembahkan korban buat Tuhan.
Kita semua pasti mengerti bahwa setiap umat Tuhan wajib mempersembahkan korban buat Tuhan. Tetapi pertanyaannya ialah korban yang bagaimana? Rasul Paulus dengan tegas berkata:
"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1). Dengan ayat ini jelas sekali bahwa persembahan yang benar adalah penyerahan sepenuhnya hidup kita kepada Tuhan, persembahan yang kudus artinya tidak ada motivasi lain selain untuk menyenangkan Tuhan, serta persembahan yang berkenan kepada Tuhan artinya yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Maka sungguh benar firman Tuhan lewat nabi Hosea yang berkata:
"Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran." (Hosea 6:6). Sesungguhnya setiap firman TUhan mengenai persembahan dan korban, sudah dengan sangat jelas dinyatakan. Tetapi anehnya masih ada umat Tuhan yang berfikir, walaupun hidupnya tidak berkenan kepada Allah, asal mereka dapat mempersembahkan kekayaan dan uangnya, Tuhan pasti senang dan berkenan. Ingat! Tuhan bukanlah Allah yang dapat ditipu dan disuap. Tuhan tahu benar motivasi setiap umatNya yang mempersembahkan korban kepadaNya.
Kita memang hidup di jaman yang penuh dengan gemerlapnya dunia dan kemewahannya. Dan justru dijaman inilah kita harus serba waspada agar tidak terbuai dengan apa yang kita lihat. Perlu kita perhatikan nasihat firman Tuhan: "Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Allah." Efesus 5:17

"...kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan." Ibrani 12:14

(Air Hidup, Ed.Novemver 2001)

[+/-] Selengkapnya...